/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333} Langsung ke konten utama

Tangisan Rindu


Senja mulai turun, ditandai warna orange tercampur kuning terang. Hari ini cerah, tapi itu tadi. Sekarang dingin mulai menyelimuti dan tak ada lagi hangatnya sinar matahari. Hanya ada cahaya bulan sang penguasa malam.

Seorang perempuan berambut pendek sebahu sedang duduk di samping tempat tidur sambil menatap keluar yang terlihat menakutkan. Sesekali ia menggerakkan kedua kakinya untuk menghilangkan rasa pegal. Terlihat sedang memikirkan seseorang yang telah hilang dalam harinya.

Hanya terdengar alunan lagu galau dari ponsel miliknya. Ya, hanya itu teman yang ia punya. Sesekali ia membuka ponsel untuk membalas pesan. Ada ucapan rindu dari seseorang untuknya. Ucapan itu membuat malam menjadi sangat pahit. Ia sangat benci jauh dan sendiri.

Pesan pun berubah menjadi obrolan via video. Seorang wanita berjilbab yang sedang berada dikeramaian dengan suara gurauan yang bising berkata rindu padanya. Mereka menikmati obrolan-obrolan sambil sesekali tertawa.

"Kapan pulang?" ucap wanita berjilbab.

"Yang pasti gak sekarang", jawabnya sambil tersenyum

"Yaaahhh.. Padahal besok hari pernikahan om Rangga. Kurang lengkap gaada kamu" sambil menyorotkan kamera ke kerumunan keluarga yang sedang asyik bersenda gurau.

Percakapan dua wanita itu pun berakhir. Sekarang, wanita berambut pendek itu sedang berbaring di atas tempat tidur. Ia tiba-tiba menangis meneteskan air mata. Membuka ponsel dan melihat foto-foto kebersamaannya bersama keluarga membuat ia semakin menangis terisak-isak. Kerinduan yang ia rasakan hanya bisa tersampaikan melalui tangisan.


"Ingin rasanya berada di tengah-tengah hangatnya keluarga" ucapnya dalam hati yang juga ikut menangis. 

Tangisan pun hilang setelah ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Panggilan tersebut dari sang kekasih yang tak bisa menemaninya malam itu. Mendengar suara itu membuatnya merasa sangat kesepian. Badan yang berbolak-balik arah bingung untuk melakukan apa. 

Air mata yang tak berujung surut membuatnya tersiksa. Ia rindu akan keluarga. Ia ingin pulang. Ingin berkumpul dengan orang-orang yang menjadi penyemangat hidup. Tapi apa daya, pendidikan membuatnya jauh dari keluarga.

Malam yang sangat kelam dengan guyuran air mata tak memberikan guratan senyum untuknya. Sungguh gelap yang tiada ujung membuat kesendirian menjadi kesedihan. 

Tak terasa dini hari hampir tiba. Tepatnya sekarang pukul 23:00. Kedua matanya sudah lelah mengeluarkan air mata yang tak akan mengantar dirinya menuju rumah. Tersadar dilanda kekantukan ia memejamkan mata berharap esok tak sendiri. 




Ceuceuzia
Bandar Lampung, 18 Maret 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Yang Malang

Sore itu, aku pergi untuk membeli makan. Setelah menutup pintu kostan, penjaga kostku membawa sapu dan memukul kucing yang sedang hamil hingga kucing itu tak bisa lagi bergerak, "pingsan" dikatanya. Entah karena alasan apa ia memukul kucing itu. Tapi yang pasti dimana hari nuraninya? Tak ada rasa sayang kepada hewan kesayangan nabi. Malangnya, sepulangnya aku membeli makan kucing itu masih terdiam tak berani untuk menggerakkan anggota tubuhnya, tubuhnya dipenuhi dengan darah yang menempel di ubin depan kamar dan mata sebelah kananya yang luka parah. Hatiku menangis, sangat menangis. Aku hanya terdiam melihat kucing malang itu. Aku bingung harus berbuat apa. Ingin rasanya menolong tapi bagaimana? Sampai aku masuk kamar aku masih memikirkan kucing diluar yang masih tetap diam. Mungkin jika aku bisa mendengar suaranya, ia merinting kesakitan meminta pertolongan. Ya Allah aku ingin sekali menolongnya. Tapi aku tak begitu berani untuk membawanya. Aku hanya mengelus kepala...